- Hadir 15 menit sebelum acara dimulai untuk melakukan registrasi
- Mengisi kursi yang terdapat di bagian depan terlebih dahulu
- Mematikan alat komunikasi, atau membuatnya dalam mode getar/diam
- Tidak membuang sampah sembarangan di lokasi seminar
- Mengikuti jalannya seminar dan workshop dengan tertib dan tidak meninggalkan ruangan sebelum kegiatan berakhir
- Proaktif dalam kegiatan seminar dan workshop
- Mengikuti tahapan seminar dan workshop dengan tertib
- Membuat dan mengumpulkan paper (lihat Format Paper) tepat waktu sesuai dengan tenggat waktu yang diberikan (lihat Skema Seminar & Workshop “Semiotika dalam Sastra dan Media”)
Minggu, 13 November 2011
Etika menghadiri seminar
Pengantar Seminar & Workshop "Semiotika dalam Sastra & Media"
‘semiotics is concerned with everything that can be taken as a sign’ (Eco, 1976)
"It seems a strange thing, when one comes to ponder over it, that a sign should leave its interpreter to supply a part of its meaning; but the explanation of the phenomenon lies in the fact that the entire universe not merely the universe of existents, but all that wider universe, embracing the universe of existents as a part . . . . . . is perfused with signs, if it is not composed exclusively of signs." (Peirce, 1906)
Semiotika berasal dari kata Yunani “semeion” yang berarti “tanda”. Semiotika tidak hanya mempelajari segala sesuatu yang disebut sebagai 'tanda' dalam tuturan sehari-hari, melainkan juga segala sesuatu yang 'merujuk atau mewakili' sesuatu yang lain. Dengan demikian, tanda yang dimaksud dapat berupa 'kata-kata', 'gambar', 'suara', 'gerak tubuh' dan 'benda-benda'. Analisis semiotika modern telah diwarnai oleh dua nama yaitu Ferdinand de Saussure (1857 - 1913) dan Charles Sanders Peirce (1839 -1914).
Semiology (from the Greek se¯meîon, ‘sign’). It would investigate the nature of signs and the laws governing them. Since it does not yet exist, one cannot say for certain that it will exist. But it has a right to exist, a place ready for it in advance. Linguistics is only one branch of this general science. The laws which semiology will discover will be laws applicable in linguistics, and linguistics will thus be assigned to a clearly defined place in the field of human knowledge. (Saussure, 1983)
Semiologi Saussure berbeda dengan semiotik Peirce dalam beberapa hal, tetapi keduanya berfokus pada tanda. Model tanda yang dikemukakan oleh Saussure adalah model tanda dua bagian, atau disebut pula dengan istilah ‘dyadic’. Saussure mengemukakan bahwa tanda dibentuk dari dua hal, yaitu ‘signifier’ (significant) dan ‘signified (signifiě). Signifier dimaknai sebagai sebuah pola bunyi, yaitu gambaran psikologis pendengar akan sebuah bunyi. Pola bunyi (sound pattern) pada akhirnya membedakan makna yang dikandungnya dengan bunyi. Signified sendiri tidak mengacu kepada objek atau benda, tapi cenderung mengacu kepada konsep.
Langganan:
Postingan (Atom)